Senin, 15 April 2013

BAB I PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang
Dalam menyampaikan hadist-hadist tentang berdakwa atau tata cara berdakwa, ada beberapa strategi yang harus di lakukan mengenai sasaran-sasaran dakwah. di antaranya metode-metode mauidhoh hasanah, metode ta’lim dan taqdim, metode hikayah dan metode khal. Dan yang akan kita bahas kali ini adalah metode hikayah, yaitu suatu metode yang isinya tentang cerita-cerita yang bisa menjadi contoh bagi kita agar kita bersikap atau meniru cara-cara penyampaian yang di lakukan oleh rasulullah. 

B. Rumusan masalah
1. bagaimana sejarah ilmu dakwah sebelum masa Nabi Muhammad SAW?
2. Bagaimana sejarah ilmu dakwah setelah masa Nabi Muhammad SAW?
3. Bagaimana cara berdakwah dengan baik?
4. bagaimana cara berdakwah yang berkesan?

C. Tujuan Untuk mengetahui bagaimana sejarah ilmu dakwah sebelum masa nabi, bagaimana sejrah ilmu dakwah setelah nabi, dan bagaimana cara berdakwah dengan baik.


BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah ilmu Dakwah Sebelum Masa Nabi Muhammad SAW
Dakwah sudah dimulai pada zaman nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Allah mengirimkan Rasul kepada umat manusia dan menyampaikan agama Islam sebagai agama yang benar yang memperbaiki akhlak serta akidah umat-umat terdahulu pada zamannya. Diantara sekian banyak Nabi dan Rasul yang diutus Allah untuk berdakwah ada 7 nama Nabi yang disebutkan dalam al-Qur’an sebagai Nabi yang diutus Allah untuk menyampaikan amanah-Nya kepada kaumnya diantaranya: Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Soleh, Nabi Luth, Nabi Syuai, Nabi Musa dan Nabi Isa.Para nabi membawa sejarah dakwah mereka sendiri-sendiri sebgai pelajaran bagi umat saat ini. Pada hakikatnya agama yang dibawa oleh para rasul sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW adalah disebut agama Islam, baik agama yang dibawa Nabi Ibrahim AS, Musa AS, Daud AS, maupn Isa AS. Dan Nabi Ibrahim yang dipandangans ebgai bapak agama itu mengaku, bahwa ia adalah seorang muslim (musliman), penganut Islam. Demikianlah bahwa agama yang diakui Tuhan di atas muka bumi ini sejak dari zaman purba kala sampai akhir zaman nanti adalah hanya satu, karena Tuhan Allah sendiri adalah satu, Maha Esa pula. Agama-agama kuno itu yang dibawa oleh Rasul sebelum Nabi Muhammad SAW diberikan oleh Tuhan ajaran-ajaran yang sesuai dengan tingkat kecerdasan mereka masing-masing kepada umat mana rasul-rasul itu diutus oleh Tuhan. Jadi sifat agama-agama itu adalah lokal dan nasional serta terbatas kepada zaman-zaman tertentu yang sesuai dengan lingkungan dan peradaban mereka pula dan kemudian setelah terjadi penyimpangan-penyimpangan di sana-sini dari ajaran-ajaran Rasul itu semula, maka Tuhan mengutus Rasul demi Rasul yang baru untuk membetulkan kembali kesalahan-kesalahan itu. Demikianlah keadaan itu berlaku sampai zaman Nabi Musa, Isa dan Nabi Muhammad SAW.
Dan pada syari’at Nabi Muhammad lah agama itu disempurnakan sedemikian rupa sehingga agama itu mampu bertahan sampai akhir zaman tanpa mengalami perubahan lagi. Jadi sifat agama Islam yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW sesuai dengan kemajuan berfikir dan kebudayaan umat manusia, yang bersifat universal dan internasional, umum untuk semua guna buat segala bangsa dan untuk dianut sepanjang zaman. Jadi bukan hanya terbatas untuk kaum dan zaman tertentu seperti agama-agama sebelumnya. Dimanapun juga semua Nabi selalu mendapat perlawanan dari kaumnya yang tidak mau percaya kepada Nabi dan Rasul mereka. Dan kaum yang tidak mau beriman itu selalu dihukum oleh Allah dengan azab yang sangat berat, seperti kaum Nabi Nuh yang tidak mau percaya dihukum Allah dengan banjir besar (Q.S. Al-A’raf: 64). Kaum ‘Ad yang kafir kepada Nabi Hud dihukum oleh Alah dengan angin yang sangat mengerikan selama 7 malam 8 hari (Q.S. Adz-Dzariyat; 41-42, Q.S. Al-A’raf: 72). Kaum Nabi Luth yang melakukan Homoseksual dihukum Allah dengan hujan batu (Q.S. Al-A’raf: 78). Kemudian kepada kaum Tsamud yang melawan Nabi Shalih dihukum oleh Allah, dengan gempa bumi (Q.S. Al-A’raf: 84). Serta kaum Nabi Syu’aib yang kufur kepadanya dihukum pula oleh Allah dengan azab yang berupa gempa bumi yang sangat dahsyat (Q.S. Al-A’raf: 91). 1) Kaum Bani Israil Kesesatan dan kekufuran ini bukan hanya melanda bangsa Arab saja, tetapi kaum Bani Israil dan kaum Yahudi-pun juga melakukan penyelewengan dari ajaran nabi-nabi mereka. Kaum Yahudi itu telah berbuat keterlaluan, seperti mengubah ayat-ayat kitab suci Taurat (Q.S. Al-Baqarah: 75; Q.S. At-Taubat: 30). Mereka ini juga mendewa-dewakan para imam dan pendetanya, sehingga Al-Qur’an menilai kaum Yahudi itu sudah mengambil imam dan pendetanya sebagai Tuhan selain Allah dan Isa Al-Masih (Q.S. At-Taubat: 31). Mereka sudah berani membelokkan ayat-ayat kitab suci dengan berdusta atas nama Allah (Q.S. Ali Imran: 78), dan juga mreka suka memakan harta haram (Q.S. At-Taubat: 34). 2) Kaum Nasrani Menurut kepercayaan Islam agama Nasrani itu asalnya adalah agama yang dibawa oleh Nabi Isa, yang mengajarkan agama Tauhid, bahwa Tuhan itu Maha Esa. Menurut Al-Qur’an Nabi Isa itu mengajak kaumnya untuk menyembah Allah tidak menyembah yang lain (Q.S. Maryam: 36; Q.S. Al-Maidah: 117). Akan tetapi berhubungan dengan kuatnya perlawanan kau yang kafir, maka ajaran Nabi Isa itu tidak bisa berkembang dengan baik, sehingga ajaran Nabi Isa sering tercampur dengan ajaran-ajaran kafir, bahkan diubah sama sekali menjadi agama polities. Agama dari Nabi Isa itu diambil oper dan diubah dari menyembah hanya kepada Allah diganti bertuhan kepada Nabi Isa, mereka mengangkat Nabi Isa menjadi Tuhan dengan lambang kepercayaan kepada Tritunggal, yaitu menyembah Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Tuhan Roh Kudus (Q.S. Al-Maidah: 72-73).

B. Sejarah ilmu Dakwah Pada Masa Nabi Muhammad SAW
1. Keadaan masyarakat Islam pada masa Nabi Muhammad SAW Muhammad SAW, Nabi akhir zaman, dilahirkan (tahun 570 M, menurut ahli sunnah) di kota Makkah dan merupakan keturunan bangsa Arab. Bangsa Arab merupakan suatu kelompok bangsa Semit, yaitu suatu bangsa keturunan Nabi Nuh melalui puteranya yang bernama Sam, yang kemudian bertambah dengan keturunan Nabi Ibrahim melalui Nabi Isma’il. Disebabkan karena lewatnya waktu yang cukup lama ditinggal Nabi mereka, maka ajaran para Nabi atau Rasul itu menderita rembesan faham-faham syirik, sehingga banyak manusia yang tersesat dari agama Allah serta menyeleweng dari ajaran yang sudah ditinggalkan Nabi (Q.S. Maryam: 59; Q.S. Al-Maidah: 77; Q.S. Al-Baqarah: 75). Orang-orang Arab jahiliyah mestinya beragama menurut agama Ibrahim, kemudian terjadi kekosongan dari tuntunan Nabi dalam waktu yang lama sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai Fatratun minarrusul (فَتْرَةٌ مِنَ الرُّسُلِ) maka masyarakat Arab jahiliyah itu menjadi musyrik penyembah berhala (Q.S. Al-Maidah: 19). Jadi orang0orang Arab itu dinamakan jahiliyah bukan disebebakan karena bodoh-nya, akan tetapi mereka disebut Jahiliah disebabkan oleh perbuatannya yang persis seperti orang-orang bodoh, tidak toleran dan tidak adanya rasa tasamuh serta tidak mau untuk berlapang dada, mereka melakukan suatu langkah dan tindakan lebih didasarkan atas sentimen dan emosi, mereka suka membangga-banggakan diri, suka menghina, lekas marah dan suka bermusuhan.
2. Dakwah Nabi Muhamamad SAW sebelum hijrah
1. Berdakwah secara sembunyi-sembunyi Setelah turun ayat Allah al-Mudatsir: 1-7 dimulailah tugas Nabi Muhammad untuk berdakwah, Nabi Muhammad memulai dakwahnya dengan sembunyi-sembunyi, dimulai dari orang yang terdekat dari keluarga, lalu sahabat dan kemudian orang-orang baik yang dikenalnya. Pada fase awal perjalanan dakwah Rasul di Mekkah perhatian utamanya adalah memperbaiki akidah, membersihkannya dan mendidik jiwa dengan melepaskannya dari sifat-sifat tidak terpuji, sehingga hati orang-orang saat itu dapat menyatu untuk sama-sama mengesakan Allah dan menghilangkan sisa-sisa kejahilan dari jiwa mereka.
2. Berdakwah secara terang-terangan Mula-mula Allah memerintahkan Nabi agar berdakwah di lingkungan keluarga dan kemudian meluas kepada sahabat. Allah memuji kebijakan, keberanian dan keikhlasan beliau dalam berdakwah. Dan setelah itu dimulailah dakwah Nabi secara terang-terangan yang dimulai dari keberanian beliau ketika berseru di bukit Shafa. Hal ini tentu saja membuat orang-orang kafir Quraisy sangat geram dan mereka melakukan berbagai macam upaya untuk menghalangi dakwah Nabi diantaranya dengan: - Mendatangi Abu Thalib - Bernegosiasi dengan Nabi - Merintangi, mencaci dan menyiksa Nabi - Memperlakukan Nabi sewenang-wenang - Memboikot Umat Islam Sementara itu Nabi dan umat Islam terus mendapat tekanan dari pihak Quraisy, kondisi inilah yang mengharuskan Nabi memilih keluar dari Makkah untuk berhijrah.
3. Dakwah Nabi setelah Hijrah Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah masyarakat di negeri ini belum mempunyai kesatuan akidah. Mereka adalah penduduk heterogen dan hidup dalam perpecahan. Secara garis besar masyarakat Madinah pada saat itu terbagi tiga kelompok:
1. Umat Islam, terdiri dari kelompok Aus, Khosroj, dan Muhajirin.
2. Kaum Musyrikin, terdiri dari kelompok Aus, Khosroj, dan kelompok lain tapi belum masuk Islam.
3. Yahudi, terdiri dari beberapa kabilah seperti bani Qoinuqa yang berafiliasi dengan Khosroj, Bani Nadir dan Quroidzah yang bergabung dengan Aus. Aus dan Khosroj adalah dua kelompok yang sejak Zaman Jahiliyah hidup bermusuhan sehingga diantara keduanya sering terjadi peperangan. Ketika Rasululah datang ke Madinah mereka tetap bermusuhan. Nabi SAW dapat mengatasi perpecahan tersebut melalui sikap bijaknya yang agung dan siasatnya yang tepat. Beliau melakukan langkah-langkah perbaikan seperti berikut: a. Membangun Masjid
b. Mengajak kaum yahudi kepada Islam
c. Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar
d. Memberikan pendidikan e. Menyusun aturan bermasyarakat antara umat Islam dan kaum Yahudi

C. Cara berdakwah yang baik Rasulullah Saw. bersabda,“Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisal mereka, lalu yang semisal mereka. Seseorang diberi ujian berdasarkan tingkatnya dalam beragama.(HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Hakim) Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang maka akan semakin besar pula ujian yang harus ia hadapi, begitu juga dengan ujian kepada mereka yang bertugas mengemban dakwah. Namun melalui ujian-ujian ini Allah hendak menyiapkan para pengemban dakwah agar mereka semakin lemah lembut dan sabar. Anda akan memerlukan sifat lemah lembut dan sabar sepanjang hidup anda selama menjadi imam sebuah masjid dan menjadi seorang penggembala untuk komunitas, jadi pastikan agar anda bisa memiliki sifat lemah lembut serta sabar dan tingkatkanlah kualitasnya.Perlu kita ketahui, dalam Islam tidak ada tingkatan Kepausan, kalaupun ada maka hal tersebut pada saat sekarang ini malah mungkin dapat memunculkan kekacauan, dan inilah salah satu keindahan Islam, yang hadir untuk membebaskan akal manusia dan menghilangkan semua penghalang antara makhluk dan Tuhannya. Jadi bersabarlah terhadap komunitas anda.Tingkatkan pengetahuan anda, karena agama kita ini berdasarkan pada bukti, dan sumbernya adalah ayat-ayat Qur’an. Dengan itu anda akan mampu membimbing komunitas anda dengan lebih baik dan membuat mereka mau mendengarkan jika diri anda sudah dilengkapi dengan pengetahuan yang cukup tentang agama Islam.Dan juga dengan mengetahui beragam pendapat para ulama akan dapat membantu memperluas wawasan dan memungkinkan anda menemukan poin penting dari ijtihad yang mereka lakukan.Kemudian anda boleh memilih satu pendapat, namun anda harus toleran terhadap pendapat yang lain, selama pendapat itu dibangun dengan dasar metodologi deduksi yang benar.Kita tahu bahwa kita tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang, namun sungguh anda bisa menyenangkan Allah, jadi arahkan pandangan ke depan dan cobalah usaha terbaik yang anda bisa lakukan dan nanti anda akan menemukan kemudahan dari Allah atas usaha anda tersebut.Semoga Allah Swt. memberikan keteguhan hati kepada anda dan semoga Dia memberikan balasan yang besar atas apa-apa yang anda kerjakan! D. Cara berdakwah yang berkesan Firman Allah yang bermaksud “Serulah manusia kepada jalan TuhanMu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik Sesungguhnya TuhanMu yang lebih mengetahui mengenai siapa yang tersesat daripada jalanNya dan Dia yang lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk”.- [al-Nahl :125] Menerusi ayat di atas Allah mengemukakan terdapat tiga cara berdakwah yang boleh dilakukan. Pertama,berdakwah secara berhikmah dan bijaksana dengan tutur bahasa yang lembut serta menarik berserta bukti yang jelas,kukuh dan boleh menghilangkan sebarang kesamaran dan keraguan. Kedua,serulah manusia dengan kata-kata yang mengandungi pengajaran seperti kisah umat terdahulu kerana dengan mengingati peristiwa yang menimpa umat terdahulu akan meninggalkan kesan yang mendalam kepada jiwa mereka dari ingkar terhadap Allah. Ketiga,berdakwah melalui perbincangan,muzakarah dan dialog dalam suasana yang penuh kemesraan dan harmoni bukan menggunakan kata2 kesat dan keji kerana tujuan perbincangan adalah untuk menyampaikan kebenaran bukan mencari kemenangan. Para pendakwah tidak harus tergesa-gesa dalam menyampaikan dakwah mereka.Mereka harus mengkaji terlebih dahulu golongan sasar mereka kerana setiap golongan masyarakat yang berbeza memerlukan cara yang berlainan. Imam Ibnu Taimiyah pernah membahagikan manusia kepada tiga golongan. Pertama,orang yang mudah menerima kebenaran dan terus mengikutinya.Inilah orang yang bijaksana. Kedua,orang yang mahu menerima kebenaran tetapi tidak mahu mengamalkan.Mereka perlulah sentiasa dinasihati sehingga mengamalkan. Ketiga,orang yang tidak mahu menerima kebenaran.Mereka perlu diajak berbincang dan berdialog secara yang paling baik.


BAB III PENUTUP

A.kesimpulan Dakwah agama telah dimulai sejak Rasul terdahulu dan jauh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir ke dunia. Pada hakikatnya agama yang dibawa oleh para Rasul-rasul tersebut disebut Islam, baik agama yang dibawa Nabi Ibrahim AS, Musa AS, Daud AS maupun Isa AS. Dan Nabi Ibrahim yang dipandang sebagai bapak agama tauhid itu mengaku bahwa ia adalah seorang muslim dan penganut Islam. Agama yang dibawa oleh para Nabi terdahulu diberikan oleh Tuhan ajaran-ajaran yang sesuai dengan tingkat kecerdasan mereka masing-masing kepada umat dimana Rasul itu diutus. Jadi sifat ajaran agamanya masih lokal dan nasional serta terbatas pada jaman tertentu. Berbeda dengan Nabi Muhammad SAW, beliau menyampaikan ajaran agama Islam sesuai dengan kemajuan berfikir umat manusia yakni bersifat universal atau internasional untuk seluruh dunia buat segala bangsa dan untuk dianut sepanjang zaman. Hanya saja sebelum Nabi Muhammad Hijrah ke Madinah beliau menyampaikan ajrannya melalui dua cara yaitu, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, akan tetapi setelah Nabi Muhammad Hijrah beliau menyampaikan ajran dengan terang-terangan hingga Islam berkembang pesat seperti yang kita anut sekarang ini. B.kritik dan saran

DAFTAR PUSTAKA

Amahzun, Muhammad, Manhaj Dakwah Rasulullah, Jakarta, Q Ithi Press, 2002. Anshary, Isa, Mujahid Dakwah, Bandung, CV. Diponegoro, 1995. Mukhlas, Imam, Landasan Dakwah Kultural, Yogyakarta, Suara Muhammadiyah, 2006. Aziz, Abdul, Jelajah Dakwah Klasik Kontemporer, Surakarta, Gama Media, 1997. Firdaus, Panji-panji Dakwah, Jakarta, Pedoman Ilmu Jaya, 1994. Qathani, Ali, Dakwah Islam Dakwah bijak, Jakarta, Gema Insani Press, 1994. Isa Anshary, Mujahid Dakwah, (Bandung: CV. Diponegoro, 1995), hal. 17 Firdaus, A.N., Panji-panji Dakwah, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1994), hal. 19-20 Imam Mukhlas, Landasan Dakwah Kultural, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2006), hal. 3 Muhammad Amahzun, Manhaj Dakwah Rasulullah, (Jakarta: Q Ithi Press, 2002), hal. 5 Ali Qathani, Dakwah Islam Dakwah bijak, (Jakarta: Gema Insani Press, 1994), hal. 110